HYPNOdontia Menyatukan Parts yang Konflik

Keberadaan tiap parts, senantiasa punya intensi positif (niat baik).

Kendati parts itu nampak seolah sedang konflik, bersitegang, bersiteru, saling menghajar, mengganjal, atau tidak selaras. Praktisi NLP (Neuro Linguistic Programming) akan melakukan mediasi melalui suatu proses chunk-up untuk menangkap level logika diatasnya,  hingga bertemu dgn intensi positif masing2.

Melalui pertanyaan :

“Apa arti pentingnya perilaku itu sekarang?”, “Apa yang membuat perilaku ini penting?”, “Apa niat baik dibelakang behavior itu, sehingga dilakukan mereka?”

Saat seluruh pihak selesai di-chunk-up, umumnya ditemukan suatu situasi  intensi positif-nya ternyata selaras atau kurang lebih sama, namun perilakunya tidak saling ekologis.

Di level logika ini, mediasi lebih mudah dilakukan, karna intensi positifnya sudah terungkap.

Inilah ide dibalik penggabungan presuposisi bahwa “People aren’t their behavior” dan Every behavior has a positive intention, at least in particular context”.

Tantangan pelaku NLP pada terapi part adalah mendapatkan intensi positif yang paling utama. Acapkali terjadi “intensi positif” yang dijawab oleh parts itu hanya “lips service”, demi faktor “agar terlihat baik”.

Disinilah dikenal istilah secondary gain dalam dunia hypnosis, yakni intensi positif yang paling esensial, yang seringkali tersembunyi dalam2, dan perlu skill eliciting dan deep rapport. Manusia selalu memiliki kecenderungan untuk bertahan tetap melakukan pembenaran terhadap keyakinannya, pada saat perubahan akan dilakukan.

NLP-er sejati akan berhati-hati dalam memberi julukan pada parts. Pada saat pembelajaran terapi parts dalam disiplin di luar NLP, ditemukan ada istilah Malevolent parts. Hmmmh sesuatu banget dan menakutkan, apalagi bila mengingat proses labeling bila masuk dalam nominalisasi, akan melanggar presuposisi People aren’t their behavior. Julukan negatif suatu part, hanya memperkuat & memperteguh unwanted behavior dari part itu.

Kecerdasan linguistik, memainkan peranan penting dalam memberi julukan yang lebih produktif, dan bersahabat. Terapi Part yang memiliki suatu tahapan legeartis ditemukan pada  praktik, Visual Squash Pattern & Six Steps Reframing.

Dalam mengatasi permasalahan BRUXISM pengalaman menunjukkan bahwa  Terapi Part seringkali dikombinasikan dengan Perceptual Position. Ide ini muncul sewaktu terjadi konflik part di suatu sistem yang luas, guna memperluas sudut pandang. Perceptual Position saat berada di Posisi pertama dan kedua, munculkan pertanyaan “Apa niat baik terhadap perilaku itu saat ini?”, “Apa intensi positif pentingnya perilaku ini?”. Pada posisi ketiga & keempat,  ternyata parts LEBIH AHLI dalam melihat intensi positif.

Terapi part dalam NLP menyadarkan kita mengenai kemampuan kita berpikir dalam Logika Level yang sifatnya multi arah (Omni Directional). Ini dikenal dengan Hirarki Ide, dalam NLP.

Part yang seringkali dianggap “bandel” adalah part yang biasanya terlalu naif untuk mampu melihat dirinya pada Level Logika yang lebih tinggi. Sehingga perilakunya menjadi tidak ekologis, dan nampak hanya mementingkan diri sendiri / kelompoknya.

Perilaku yang dapat menyulitkan Part Lain dalam sistem berfikir,  sebenarnya tidak tahu menahu, tidak terlibat bahkan tidak ada hubungannya dalam konflik parts yang sedang terjadi, dikenal sebagai ekologis.

Pada suatu saat, terapi Part ini  digabungkan dg Universal Therapy, misal gaya 5-Path– nya Carl Banyan, ditemukan adanya efek Konflik Part akan terjadi kondisi saling melukai dari setiap pihak/parts. Berdampak terhadap emosi yang terluka, sehingga dilakukanlah proses memaafkan diri sendiri dan memaafkan parts lainnya, serta saling bermaafan antar parts. Hal ini merupakan Forgiveness Therapy.

0 Comments

Add Your Comment: